Selasa, 11 September 2012
Bingkai Mata Kehidupan
Sebuah tuntutan akan kesempurnaan selalu menjadi impian setiap manusia yang terlahir di dunia..., bahwa pada kenyataannya setiap manusia tecipta membawa label terbatas. Itu tak mengurangi kadar impian tingkat tinggi akan sebuah kenyataan yang selaras dengan harapan.
Pun realita kehidupan menyediakan ruang khilaf pada setiap pelakunya..., itupun bukan menjadi alasan baku, karena manusia juga dilabeli sebaik baik makhluk ciptaanNya dengan paket akal budi pekerti.
Dan ketika hamparan kanvas putih kehidupan mulai digelar....., adalah coretan coretan warna yang akan terangkai menjadi sebuah lukisan tergantung pada tangan tangan sang pelukis yang diperankan oleh manusia. Sejarah dan waktu terbingkai dalam takdir telah membuktikan bahwa lukisan tidak selalu selesai, ada yang harus berhenti ditengah jalan. Bahkan ada yang tidak pernah sempat mencoret kanvas sama sekali. Adalah detak napas sang waktu yang tak selalu berpihak karena design holistik.
Pada setiap eksistensi kehidupan manusia di dunia sebagai makhluk yang diberi kemampuan menjadi pemimpin walau sebatas pada dirinya sendiri..., selalu saja ada yang namanya ruang kelemahan. Dimana segumpal daging merah yang disimpan ditempat yang paling dalam agar tak ada seorangpun yang tau apa yang ada didalamnya..., diselipkan kata statis dan dinamis sekaligus kebebasan. Yang setiap unsurnya memiliki kelebihan dan kekurangan..........., sehingga membawa pada sebuah permainan dalam ruang keteguhan, keluwesan maupun kebablasan.
Tak urung jua sebuah harmoni ekosistem menjadi rantai pengikat satu sama lainnya menjadi sebuah hubungan penuh makna..., ada yang saling menguntungkan sampai yang saling merugikan. Dan ketika butir butir iri dengki sirik dan kebencian ditaburkan...., maka akan menjadi hamparan ladang yang subur bak gulma yang mengusik eksistensi batang batang penyangga kehidupan. Pun ketika mata bisa melihat sekitar dengan penuh kedalaman, maka akan menuntun kita pada sebuah kenyataan..., tak semua sejalan dengan harapan, impian dan juga kemauan. Semesta raya hadir penuh dengan keajaiban penuh dengan misteri penuh dengan kemungkinan juga ketidak kemungkinan. Tapi semua itu dibingkai dengan manis dalam design holistik tanpa ada keraguan. Semua sudah ada yang mengatur..., terima saja..., hadapi saja...., jalani saja...., nikmati saja.
Rabu, 22 Februari 2012
~ Paray Selintas pandang ~
Teringat pada suatu masa dimana kaki ini untuk pertama kali menapak tanah kota ini
Kesan pertama yang menyapa adalah suasana panas yang begitu menyengat
Sampai pada akhirnya sebuah perjalanan membawa pada sebuah kenyataan
Tentang kerasnya hidup di tanah orang yang terpampang di depan mata
Adalah sebuah pilihan untuk terus bertahan...., dengan meninggalkan sejuta kenangan
Yang membunuh jiwa tanpa batas..., selayak pedang tajam menghujam tepat di inti hati.
Suasana baru menyelimuti hari-hari penuh perjuangan
Mencoba lari dari sebuah kenyataan yang tak sesuai harapan
Tentang hati yang terbunuh sepi.., tentang janji yang tak tertepati.
Adalah rasa yang selalu ada..., terpaksa beku dipanasnya riuh dunia
Yang membunuh harapan insan...., selayak nyawa dicabut dari raga
Waktu berlalu musim berganti...,
Membawa pada satu titik dimana hati tertambat lagi
Tentang keindahan ciptaan Illahi..., walau terlambat tapi sangat berarti
Adalah janji yang tak bisa kuberi..., terpaksa terkunci di pusara hati
Adalah waktu yang tak berpihak..., terpaksa berhenti di langkah kaki.
Berakhir pada sisa gema terompet tahun baru
Pandangan harus mulai kabur melihat semua
Tentang satu kenyataan..., diujung perjalanan
Adalah sesuatu yang mulai menyatu dalam diri
Adalah kisah yang pernah terangkai..., terpaksa berakhir di kenyataan dunia.
Adalah hati yang terdalam..., terpaksa layu di sebuah pengharapan
Di jantung Kota Paray
Februari 2012
Kesan pertama yang menyapa adalah suasana panas yang begitu menyengat
Sampai pada akhirnya sebuah perjalanan membawa pada sebuah kenyataan
Tentang kerasnya hidup di tanah orang yang terpampang di depan mata
Adalah sebuah pilihan untuk terus bertahan...., dengan meninggalkan sejuta kenangan
Yang membunuh jiwa tanpa batas..., selayak pedang tajam menghujam tepat di inti hati.
Suasana baru menyelimuti hari-hari penuh perjuangan
Mencoba lari dari sebuah kenyataan yang tak sesuai harapan
Tentang hati yang terbunuh sepi.., tentang janji yang tak tertepati.
Adalah rasa yang selalu ada..., terpaksa beku dipanasnya riuh dunia
Yang membunuh harapan insan...., selayak nyawa dicabut dari raga
Waktu berlalu musim berganti...,
Membawa pada satu titik dimana hati tertambat lagi
Tentang keindahan ciptaan Illahi..., walau terlambat tapi sangat berarti
Adalah janji yang tak bisa kuberi..., terpaksa terkunci di pusara hati
Adalah waktu yang tak berpihak..., terpaksa berhenti di langkah kaki.
Berakhir pada sisa gema terompet tahun baru
Pandangan harus mulai kabur melihat semua
Tentang satu kenyataan..., diujung perjalanan
Adalah sesuatu yang mulai menyatu dalam diri
Adalah kisah yang pernah terangkai..., terpaksa berakhir di kenyataan dunia.
Adalah hati yang terdalam..., terpaksa layu di sebuah pengharapan
Di jantung Kota Paray
Februari 2012
Langganan:
Komentar (Atom)
