Kampoeng Gue

Well come to my paradise
Powered By Blogger

Kamis, 26 Agustus 2010

:::: Hadapi saja ::::



Sejatinya memang tidak mudah bagi siapapun,
untuk melepaskan,
kehilangan.
Karena memang tidak mudah.
Semuanya tinggal andai saja…,
Tapi takkan mungkin waktu diputar kembali.

Sungguh kutak ingin kau terus bermuram durja,
Larut dalam kesedihan yang berkepanjangan,
Tenggelam di dasar samudera air mata nestapa tak bertepi.
Walau semua tahu,
Sedih ini tak berujung.
Sungguh ku tak ingin kau terus seperti itu.

Bukan karena ku tak merasa kehilangan,
Tapi ku tahu kau tak setegar dulu.
Harus diakui kau kini sangat rapuh,
Laksana ranting kering yang mudah patah.

Ku ingin kau tegarkan hatimu,
Kuatkan dirimu,
Walaupun tak mudah

~ Hadapi Saja ~
(Iwan Fals)

Relakan yang terjadi,
Takkan kembali.
Dia sudah milik Nya,
Bukan milik kita lagi.
Tak perlu manangis,
Tak perlu bersedih,
Tak perlu…, tak perlu sedu sedan itu,
Hadapi saja.
Pasrah pada Illahi,
Hanya itu yang kita bisa.
Ambil hikmah,
Ambil indahnya,
Cobalah menyanyi, cobalah menari,
Cobalah…, cobalah mulai detik ini
Hadapi saja
Hilang memang hilang,
Wajahnya terus terbayang
Berjumpa di mimpi
Kau ajak aku tuk menari, benyanyi bersama bidadari malaikat dan penghuni surga
Relakan yang terjadi,
Takkan kembali.
Dia sudah milik Nya,
Bukan milik kita lagi.
Pasrah pada Illahi,
Hanya itu yang kita bisa.
Ambil hikmah,
Ambil indahnya,
Cobalah menyanyi, cobalah menari,
Cobalah…, cobalah mulai detik ini
Hadapi saja

Untukmu bunda

Rabu, 18 Agustus 2010

Cerpen Lama


Surya tenggelam dibawah cakrawala nun jauh di sana. Dan disela awan-awan senja yang beragam bentuknya, muncul sekunar bintang. Bintang yang paling terang sinarnya, diantara bintang-bintang yang lain. Itulah bintang dimana bersemayam sang dewi cinta. Dalam hati aku bertanya, apakah bintang ini juga dihuni oleh insan seperti kita, yang mencintai dan memendam rindu...? Tidak mungkinkah bintang itu sama seperti aku juga? Ia mempunya X-nya sendiri yang berada nun jauh disana.., tapi sebenarnya sangat dekat..., dekat dihatinya...? Dan tidak mungkin pula kah jika bintang itu sedang menulis surat kepada X-nya..? saat ini juga, saat senja kala bergetar di ujung cakrawala. Karena ia tahu bahwa gelap akan melebur senja, dan esok terangpun akan mengusir gelap. Ia pun sadar bahwa malam akan menggantikan siang, dan siangpun besok akan menggantikan malam, silih berganti, terus menerus, sampai suatu saat kelak ia dapat bertemu dengan orang yang dikasihinya itu.

Saat ini keheningan ujung senja pun telah memeluknya, diikuti dengan kesunyian malam. Ditaruhnya penanya, lalu berlindung dari kegelapan dibalik punggung sebuah nama X.......

Mungkin tiap orang punya definisi sendiri tentang malam, tapi dari sekian banyak mungkin aku adalah sedikit dari orang yang tidak punya sikap tentang siang dan malam. Aku hanya ingin siang hariku duduk sama X, sambil berbincang-bincang. Dan malamku ku isi dengan ngobrol saja sambil X ada disebelahku.

Bulan ini adalah bulan bagi semua umat Islam diseluruh dunia melaksanakan ibadah puasa. dimana bulan ini banyak anugerah dan ampunan. Namun demikian bagiku sekarang ini puasa sudah tidak istimewa lagi. Kadang sampai ingin lari menghindar........, ampuni hambaMu ya Allah.Tapi walaupun begitu dalam hatiku selalu berharap untuk tidak membencinya. Sampa saat ini aku masih belum mengerti makna yang terkandung dalam puasa itu. Walaupun sekarang aku puasa, lebih karena sudah menjadi kebiasaan tiap tahun dalam keluarga.

Lalu aku mulai menggoreskan pena yang tertahan beberapa hari, ingin berbagi kabar dengan X, karena aku merasa rindu sekali.

Hai X.....!

Karena larut dalam kertas dan pena,tak terasa gelap telah menyelimuti. Sementara rinai hujan belum juga reda. Dari teras aku melihat orang berbondong-bondong menuju Masjid. Aku hanyut dalam irama mereka. Terlihat gurat raut wajah mereka seolah tidak ada kebimbangan dalam hidup ini. Mereka jalani hidup ini berdasarkan porsinya masing-masing. Aku memeluk lutut dan membenamkan kepala diantara keduanya. Mencoba sembunyi dari orang-orang yang lewat pergi ke Masjid (hiiiii...). Dan saat ini mungkin X juga lagi berangkat ke Masjid bareng sama keluarganya. I hope so...!

Aku jadi surut..., kenapa aku tidak seperti mereka, bergabung bersama mereka. Sementara suara Adzan kian membuai tapi otak yang sudah legam ini menjadikan kaki kaku hingga tak mau beranjak untuk menghampirinya.

Kata pertama yang ingin aku sampaikan adalah "Maaf". Tapi sebelum dilanjutkan aku ingin memastikan bahwa X dalam keteduhan perlindungan Sang Damai. Karena itu bisa melegakan ku saat ini. Hanya hari-hari X yang penuh senyum ...., senyum yang senantiasa menghiasi wajah X, seakan-akan X diciptakan kedunia ini tidak untuk berbuat lain kecuali tersenyum.Trims X atas senyumnya...!

Semula aku menganggap kenal X hanya sekedar menambah teman, karena saat ini aku sedang butuh seseorang yang bisa jadi teman bicara, buat berbagi masalah masing-masing. Tapi setelah sering ngobrol ternyata X enak diajak bicara. Seolah kami sudah lama menjalin hubungan.hingga timbul kenangan yang sedikit demi sedikit aku kumpulkan untuk dijadikan bekal saat ini. Sebab dengan adanya kenangan akan memicu laju khayalan yang membuat hari-hariku tidak hambar. Meski sesingkat apapun waktunya, ini akan menjadi semangat untuk tetap bertahan. Aku berharap semoga pertalian yang ada ini, entah teman, teman dekat, kenalan atau apapun namanya bukan sekedar kompensasi bagi kita. Aku menginginkan ikatan yang membuahkan simpul sekeras granit dihati kita, biarpun kecil adanya. Hingga tiap kali kita mengusap dada, ada sesuatu yang terasa dan selalu kita rasakan.

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku katakan padamu, tapi malam kian larut. X aku hendak tidur sekarang, tapi aku tidak akan tidur lama malam ini. Karena dalam mimpiku nanti, aku akan bisikan padamu kata yang tak tertulis pada kertas ini.

Selamat malam X.....!

Selasa, 19 Januari 2010

LURIK LURIK BAWAH API


Bagaimana harus ku mulai ? Entah lah.
Masa...
Memaksa kita,
Tak pernah kupinta,
mungkin pengakhiran itu menjadi suatu permulaan.
Mungkin!.

Aku sebisanya coba tuk terus kekal dalam perasaan ini,
entah kenapa,
aku rasakan aku tidak layak
terlarang sudah
Sebetulnya, aku tidak punya kemampuan.
Aku hanyalah seorang laki laki,
mentah,
Lemah,
Hanya sekelumit rasa.

Mengharap, terlalu mengharap.
Mungkin tak patut ada keinginan untuk mencipta Masjid Nan Indah bersama Kamu.
Aku seharusnya tidak ada langsung perasaan ini pada Kamu.
Tidak patut ada langsung perasaan ini.
Tidak ...

Mungkin Aku hanya layak bermimpi.
Kau dan Aku bagai enggang dan pipit.
Aku patut sadar dari mimpi ini.
Aku tidak seharusnya.....

Kau puncak perasaan ini.
Sedih,
Kecewa,
Marah,

Perasaan, cepatlah Kamu meninggalkan Aku.
Perasaan, pergilah Kamu dari diri Aku.
Perasaan, lenyaplah Kamu dari memori Aku.
Aku ... tidak sanggup lagi ...
Aku ... tidak dapat menahan lagi ...
Bukan karena aku tak lagi...
Tapi ku sadari
Aku ... tiada tempat untuk mendirikan perasaan ini lagi ...

Sebelum ini,
Aku bersungguh,
Untuk meminggirkannya,
Untuk membuang hati ini,

Namun siapalah aku,
Harapan datang lagi,
Namun siapalah aku,
Tumbuh bersinar-sinar,

Setelah ku kenali,
Setelah ku akali,

Ada... Kalanya...
Kita mampu merencana
Takdir yang terlaksana
Satu hati di ujung langit
Satu... itu sepuluh
Sejauh bima sakti
Kita yakin kembali

Selama ini,
Untuk perasaan ini,

Kepada mu Tuhan aku berserah, aku berharap pengampunan Mu. Aku bersalah. Aku menyakiti hamba Mu. Aku mengaku segala khilafku. Aku tidak mampu memberi harapan. Aku hamba Mu yang hina. Ya Allah, sejujurnya diri ini rebah. Terbekas akan segalanya. Menangis aku mengenangkannya. Sedihnya, pahitnya untuk aku telan, berbekas dihati ini. Tuhanku, aku tidak adil kerna baru sekarang aku meminta dari Mu, baru sekarang aku berserah pada Mu. Aku sudah tiada tempat untuk mengadu. Tiada tempat untuk aku luahkan. Tiada tempat untuk aku titiskan air mata tanpa dipaksa.

Akan berbekas, Akan menjadi kenangan untuk ku


Saat ini ....
Aku ternyata bingung,